Guru Harus Lebih Kreatif , Tegas Kadis Pendidikan Kota Kupang

banner 468x60

KOTA KUPANG, 19 Oktober 2020

Berita-tiga.Com …
| Pada proses pembelajaran secara daring (dalam jaringan) ini, guru-guru atau tenaga
pengajar harus bisa lebih kreatif dan waktu pembelajarannya lebih dipersingkat. “Kalau waktu
pembelajaran 10 sampai 15 menit itu bisa, tidak usah sampai 20 atau 25 menit itu lebih bagus,
karena kita tidak ingin peserta didik merasa jenuh,”
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi
Djami, M.Si, kepada awak Media saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (14/10/2020).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, M.Si.
Dokumentasi : Nataniel Pekaata/NTT Aktual
Dumuliahi Djami menambahkan metode pembelajaran secara daring yang diberikan oleh
guru-guru kepada peserta didik (siswa/siswi) harus dapat membuat para peserta didik itu tetap
merasa senang atau nyaman dan siswa-siswi tidak merasa jenuh.
“Metode pembelajaran yang dipakai secara daring ini harus dapat juga membuat peserta didik
merasa senang. Selain itu diharapkan pula bagi para guru jangan juga memindahkan secara
keseluruhan pembelajaran secara tatap muka yang biasanya itu 1 Jam sama dengan 35 Menit
di metode pembelajaran daring, paling secara daring ini sekitar 20 – 25 Menit. Inti-intinya dan
substansi nya apa itu diberikan kepada peserta didik dan selanjutnya diharapkan peserta didik
secara kretaif dan aktif pula dapat melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau tenaga
pengajar,” ujar Dumuliahi Djami.
Dalam Metode Daring ini cukup banyak contoh tutorial yang dapat di unggah di Google.
“Contoh-contoh pembelajaran secara daring itu walaupun tidak bisa dilaksanakan 100 persen
di Kota Kupang, tetapi paling kurang dapat dijadikan sebagai acuan untuk kita buat semacam
tutorial-tutorial bagi peserta didik, sehingga walaupun dengan metode pembelajaran secara
Daring di saat pandemi ini tetap juga membuat peserta didik merasa nyaman dan senang,”
katanya.
Selain itu Dumuliahi Djami menerangkan pula Daring atau pendidikan jarak jauh ini tidak dapat
didefinisikan bahwa sama dengan memberikan tugas kepada peserta didik setiap harinya.
“Bayangkan kalau dalam satu hari itu ada dua atau tiga guru mata pelajaran yang memberikan
tugas dan satu minggu misalnya ada delapan sampai dua belas mata pelajaran memberikan
tugas. Hal ini kerap kali juga membuat peserta didik menjadi kerepotan dan akhirnya lebih
banyak mereka tidak mengerjakan tugas dan yang mengerjakan tugas mereka adalah orang
tua apalagi peserta didik TK dan SD. Oleh karena itu kita perlu strategi agar peserta didik itu
senang juga mengerjakan tugas yang dimana dalam hal ini tugas yang diberikan juga jangan
banyak-banyak,” jelas Dumuliahi Djami.
Dalam metode pembelajaran secara daring ini diperlukan rasa saling pengertian antara Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan, Guru, Kepala Sekolah dan juga orang tua serta siswa, tambahnya.
“Memang dalam kondisi seperti ini kita perlu saling mengerti antara Dinas Pendidikan, Kepala
Sekolah juga antara Guru dan orang tua, serta antara orang tua dengan peserta didik,” tutup
Dumuliahi Djami.**
** Editor : Johny Ballo. **

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60